Follow by Email

Rabu, 27 Juni 2012

Keanekaragaman Hayati, Masa Depan Bumi Kita



Oleh: Sunarwan Asuhadi
(Staf Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Wakatobi)
 

Tema nasional yang diusung dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Se-Dunia 2010 adalah "Keanekaragaman Hayati, Masa Depan Bumi Kita". Tema ini mengacu pada tema Hari Lingkungan Hidup Se-Dunia 2010 oleh United Nations Environment Programme yang akan diperingati di Kigali, Rwanda, yaitu "Many Species. One Planet. One Future" serta ditetapkannya tahun 2010 sebagai "Tahun Keanekaragaman Hayati Internasional".  
Keanekaragaman hayati adalah seluruh keanekaan bentuk kehidupan di bumi, beserta interaksi di antara mereka dan antara mereka dengan lingkungannya. Keanekaragaman hayati atau keragaman hayati merujuk pada keberagaman bentuk-bentuk kehidupan: tanaman yang berbeda-beda, hewan dan mikroorganisme, gen-gen yang terkandung di dalamnya, dan ekosistem yang mereka bentuk. 
 Permasalahan utama dalam keanekaragaman hayati adalah terjadinya erosi plasma nutfah berupa penurunan Jumlah spesies makhluk hidup. Di awal tahun 1980, beberapa ahli di dunia mulai mengetahui bahwa spesies mulai mengalami kepunahan secara global. Kepunahan ini diketahui terjadi mulai dari 65 juta tahun yang lalu pada periode Cretaceous di mana banyak spesies termasuk Dinosaurus mulai punah. Krisis yang dihadapi saat ini merupakan hasil dari: perubahan iklim secara global, perubahan geologi secara alami, dan kejadian katalistik.
Krisis saat ini merupakan akibat dari campur tangan manusia yang tidak bersahabat dengan alam. Tahun 80an sampai 90an, ilmuwan, media, masyarakat, pemerintah di seluruh dunia mulai bekerja untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati di daratan. Berbagai macam isu seperti pengrusakan hutan, pembangunan yang berlebih, eksploitasi yang berlebih, polusi, rusaknya habitat, invasi oleh spesies asing, menjadi fokus utama yang dibahas. Keanekaragaman hayati pesisir dan laut mulai menjadi perhatian pada tahun-tahun tersebut. Karena ekosistem di lautan memiliki lebih banyak spesies dibandingkan daratan. Diperkirakan 32 sampai 33 phyla hewan yang ditemukan di pesisir dan lautan. 15 phyla dari jumlah tersebut ditemukan hanya di estuari atau di lautan.
Posisi strategis kewilayahan Indonesia yang terbagi dalam tiga garis hipotetik berdasarkan kemiripan flora dan fauna yang direka atas dasar asumsi persamaan asal-usul tipologi kewilayahan, yakni garis Wallacea-Weber (meliputi daratan Indonesia Bagian Barat dengan flora dan fauna yang sama dengan Benua Asia), Garis Wallacea (meliputi daratan Indonesia Bagian Tengah (Sulawesi) yang berbeda dengan wilayah lainnya), dan Garis Lyedekker (meliputi Indonesia Bagian Timur dengan flora dan fauna yang sama dengan benua Australia). Ketiga tipologi kewilayahan tersebut telah menjadikan Negara Indonesia dikaruniai kekayaan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi dengan dimilikinya sekitar 90 tipe ekosistem, 40.000 spesies tumbuhan dan 300.000 spesies hewan, yang menjadikan Negara Indonesia menduduki perangkat kelima keanekaragaman hayati di dunia. Dengan potensi keanekaragaman hayati yang melimpah tersebut merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan bagi pembangunan ekonomi nasional dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Menurunnya keanekaragaman hayati (biodiversity) dapat dikelompokkan pada dua kelompok besar, yaitu biodiversitas tanaman dan hewan darat, serta biodiversitas perairan. Penyebab menurunnya keanekaragaman hewan (darat) dan tanaman terjadi karena adanya permintaan pasokan konsumsi protein yang berasal dari hewani (hewan) dan nabati (tumbuhan). Kenaikan permintaan protein hewani dan nabati tersebut sumbernya adalah penduduk. Jumlah penduduk yang meningkat memerlukan pasokan bahan makanan (nabati dan hewani) yang meningkat juga. Konsumsi yang berlebih dapat menimbulkan hilangnya spesies tanaman atau hewan. Kasus Indonesia, permintaan pasokan bahan makanan (beras) yang besar mendorong diadakan pengembangan padi spesies baru yang memiliki produktivitas tinggi. Keberhasilan ini diikuti oleh hilangnya kekayaan endogenous varietas padi, seperti hilangnya Rojolele, Cianjur, Bengawan dll.
Peningkatan jumlah penduduk akan menyebabkan kenaikan permintaan kayu bakar (untuk domestik maupun untuk pemanasan ruang) yang menyebabkan deforestasi. Pemanenan kayu dari hutan bisa menyebabkan kondisi ruang tumbuh tanaman tertentu menjadi berubah dan kondisi baru tidak sepenuhnya sesuai dengan kebutuhannya. Maka secara berangsur tanaman tersebut akan hilang dan selanjutnya akan punah. Peningkatan jumlah penduduk juga memerlukan pasokan bahan untuk obat-obatan yang bersumber dari hewan ataupun dari tumbuhan. Eksploitasi kedua sumber obat-obatan dalam kondisi tak terkendali justru dapat menyebabkan hilangnya sumber daya alam yang diperlukan tersebut, akibatnya spesies tanaman atau hewan tersebut hilang. Kehilangan satu atau beberapa spesies hewan ataupun tanaman berarti menurunnya keanekaragaman hayati sumberdaya alam.
Enam faktor utama dari aspek sosial ekonomi secara langsung atau tidak langsung menjadi penyebab utama menurunnya kualitas lingkungan biofisik melalui proses perusakan lingkungan hutan (deforestasi). Keenam faktor tersebut adalah: populasi penduduk, tata guna lahan, perdagangan, infrastruktur, lemahnya hukum, serta rendahnya pengetahuan lingkungan. Laju deforestasi hutan Indonesia merupakan salah satu yang tertinggi di dunia dengan kisaran antara 1,08 juta ha per tahun hingga 2 juta ha per tahun.
Pertambahan jumlah penduduk menyebabkan meningkatnya permintaan makanan yang menyebabkan kelebihan penangkapan ikan (over fishing), hal ini jelas memberikan kontribusi kepada terjadinya penurunan sumberdaya laut dan pantai. Over fishing juga terjadi dari dorongan kegiatan perdagangan yang menguntungkan secara ekonomi tapi tidak secara ekologi. Pembangunan infrastruktur menimbulkan terjadinya kegiatan industri dan pertambangan. Kedua kegiatan ini secara bersama atau sendiri menimbulkan pengurangan lapisan ozon, konsentrasi logam berat, dan menghasilkan limbah cair industri. Dua yang pertama secara langsung memberikan kontribusi kepada hilangnya beberapa spesies di lautan (loss of marine species). Sedangkan limbah cair industri bersama limbah cair pemukiman akan menyebabkan pencemaran pada perairan dan juga akan mengakibatkan loss of marine species. Kondisi hilangnya beberapa spesies perairan pantai ini menyebabkan penurunan sumberdaya laut dan pantai.
Kegiatan perdagangan untuk keperluan tertentu dari beberapa bagian (spesies) hewan akan menyebabkan terjadinya pembunuhan terhadap hewan spesies tertentu. Ketertarikan manusia dengan kulit harimau untuk hiasan ataupun bahan baju (jaket), kulit buaya untuk tas, sepatu, ikat pinggang, dan keperluan lain, telah menyebabkan secara berangsur hewan-hewan tersebut menjadi langka. Perburuan penyu laut jenis tertentu, ikan paus untuk diambil minyak ikannya, telah nyata menyebabkan turunnya penduduk spesies tersebut. Inti dari akibat perdagangan ini adalah eksploitasi yang berlebihan dari pertumbuhan alamiah populasi jenis hewan tertentu tersebut.
Kegiatan turisme (ecotourism) terutama wisata buru yang menjadikan hewan tertentu sebagai target, jika tidak dilakukan dengan penelitian yang benar dan baik akan menyebabkan over hunting/over killing. Jika suatu spesies tak dapat bertahan lagi melalui proses alamiah dalam perkembang biakannya, sebagai akibat menurunnya populasi, maka secara berangsur spesies itu akan punah. Hilangnya atau menyempitnya habitat untuk spesies tertentu (akibat perluasan kota/pemukiman), juga menyebabkan terjadinya penurunan keanekaragaman hayati. Sedangkan keanekaragaman ikan dan organisme air lainnya dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu kegiatan manusia dan alamiah. Faktor alamiah adalah perubahan atmosfer yang menimbulkan kenaikan suhu air laut yang menyebabkan rusaknya terumbu karang dan rumput laut (padang lamun). Kerusakan ini menyebabkan hilangnya beberapa spesies hewan laut. Untuk faktor yang berasal dari kegiatan manusia, sumbernya adalah pembangunan infrastruktur dan tata guna lahan.n Pelaporan Status
Pembangunan infrastruktur (untuk keperluan manusia) terutama industri menyebabkan terjadinya peningkatan pembuangan limbah beracun ke perairan, secara langsung menyebabkan hilangnya ikan dan beberapa organisme. Di samping itu, kegiatan penambangan menyebabkan erosi tanah yang diikuti polusi air permukaan, sehingga dampaknya bermuara kepada hilangnya ikan dan beberapa organisme. Aktivitas penambangan tidak jarang menimbulkan polusi radiasi pada air yang dapat menyebabkan hilangnya ikan dan beberapa organisme. Hilangnya beberapa jenis ikan dan organisme sendirinya bermakna menurunnya keanekaragaman hayati.
            Dengan demikian terjadinya erosi genetik di dunia lebih disebabkan faktor antropogenik daripada kosmogenik. Sistem hukum kita masih tersandera oleh perilaku banyak pihak yang belum berpihak pada keseimbangan ekosistem alam. Langkah penyadaran dalam membangun sistem nilai yang mengapresiasi kelestarian alam terpasung oleh perilaku pelaku pasar dan industri yang over exploitation  terhadap sumberdaya dan lingkungan. Perlu analisa untuk revisi sistem, kebijakan, dan tindakan agar kegiatan pembangunan tidak justru self destructive (merusak dirinya sendiri).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar